Khutbah Idul Fitri Hakikat Hidup Dan Kehidupan

Khutbah Ied Fitri : Hakikat Kehidupan

Oleh : Asep Iwan G., S.Ud.,M.Pd.I.

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَللَّهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. 

قَالَ الله تَعَالَى: يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. 

وَقَالَ الله تَعَالَى: وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ (155) اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ (156) اُولٰۤىِٕكَ عَلَيْهِمْ صَلَوٰتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ (157)

وَقَالَ الله تَعَالَى: كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Jamaah shalat ied rahimakumullah

Hari ini kaum muslimin di segenap penjuru bumi menunaikan Idul Fitri. Dengan kumandang takbir, tahlil dan tahmid serta shalat idul fitri. Dalam suasana bahagia ini, marilah kita tingkatkan rasa syukur kepada Allah. 

Salah satu bentuk perwujudan syukur adalah dengan menggunakan seluruh anugerah Allah untuk bekal amal saleh, untuk bekal beribadah. Sehingga semakin bányák nikmat yang kita terima mąką harus menjadi semakan taat.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw. Yang telah memberikan suri tauladan utama untuk selalu kita tiru agar kita bisa menjadi muslim yang baik dan benar, menjadi manusia yang selamat dunia akhirat. Semoga kita selalu diberi kekuatan untuk mengikuti ajaran Rasulullah Muhammad SAW.

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ 

Hakikat Hidup di Dunia.

Allah Subhanahu wa Ta’ala sebelum menciptakan manusia, sudah menciptakan surga dan neraka. Surga disiapkan untuk orang-orang yang bertakwa kepada-Nya, sebaliknya neraka disiapkan untuk orang-orang yang bermaksiat kepada-Nya. Allah Azza wa Jalla berfirman:

تِلْكَ حُدُودُ اللهِ وَمَن يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ {13} وَمَن يَعْصِ اللهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ ناَرًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُّهِينٌ {14}

“Demikian aturan Alloh. Barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedangkan mereka kekal di dalamnya; dan Itulah kemenangan yang besar.—-Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan. (QS. An NIsaa’: 13-14)

Surga adalah tempat yang indah dan penuh dengan kenikmatan. Karena indahnya, sampai tidak dapat terbayangkan oleh akal fikiran, tidak pernah dilihat oleh mata dan tidak pernah terdengar oleh telinga. 

واللفظ للبخاري عن أبي هريرة -رضي الله عنه-، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: قال الله: أعددت لعبادي الصالحين ما لا عين رأت، ولا أذن سمعت،

Jika seseorang masuk surga, maka ia akan hidup selama-lamanya, akan muda selama-lamanya, akan sehat selama-lamanya dan akan senang selama-lamanya. 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 يُنَادِى مُنَادٍ إِنَّ لَكُمْ أَنْ تَصِحُّوا فَلاَ تَسْقَمُوا أَبَدًا وَإِنَّ لَكُمْ أَنْ تَحْيَوْا فَلاَ تَمُوتُوا أَبَدًا وَإِنَّ لَكُمْ أَنْ تَشِبُّوا فَلاَ تَهْرَمُوا أَبَدًا وَإِنَّ لَكُمْ أَنْ تَنْعَمُوا فَلاَ تَبْتَئِسُوا أَبَدًا 

“Akan ada penyeru (kepada penghuni surga): “Sesungguhnya kalian akan sehat dan tidak akan sakit selama-lamanya, kalian akan hidup dan tidak akan mati selama-lamanya, kalian akan muda dan tidak akan tua selama-lamanya, kalian akan senang dan tidak akan sengsara selama-lamanya.” (HR. Muslim).

Inilah kenikmatan yang sempurna dan kesenangan yang sesungguhnya. Berbeda dengan dunia, ketika senang disudahi dengan kesedihan, ketika hidup disudahi dengan kematian, ketika sehat disudahi dengan sakit dan ketika muda disudahi dengan masa tua. Dan lagi, kesenangan yang ada di dunia, hanya diraih dengan kerja keras dan usaha, di samping hanya sebentar dan tidak berlangsung lama. Berbeda dengan surga, apa yang kita inginkan ada, tanpa perlu kerja keras dan berusaha, bahkan kita hanya menikmati sambil duduk santai di atas dipan-dipan dengan dilayani oleh anak-anak muda. 

Allah Azza wa Jalla berfirman:

عَلَى سُرُرٍ مَّوْضُونَةٍ {15} مُّتَّكِئِينَ عَلَيْهَا مُتَقَابِلِينَ {16} يَطُوفُ عَلَيْهِمْ وِلْدَانٌ مُّخَلَّدُونَ {17} بِأَكْوَابٍ وَأَبَارِيقَ وَكَأْسٍ مِّن مَّعِينٍ {18} لاَّيُصَدَّعُونَ عَنْهَا وَلاَيُنزِفُونَ {19} وَفَاكِهَةٍ مِّمَّا يَتَخَيَّرُونَ {20} وَلَحْمِ طَيْرٍ مِّمَّا يَشْتَهُونَ {21} وَحُورٌ عِينٌ {22} كَأَمْثَالِ اللُّؤْلُؤِ الْمَكْنُونِ {23} جَزَآءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ {24}

“Mereka berada di atas dipan yang bertahta emas dan permata–Seraya bertelekan di atasnya berhadap-hadapan–Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda,—Dengan membawa gelas, cerek dan minuman yang diambil dari air yang mengalir,—Mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk,—Dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih,—Dan daging burung dari apa yang mereka inginkan.—Dan ada bidadari-bidadari bermata jeli,—Laksana mutiara yang tersimpan baik.—Sebagai Balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Al Waaqi’ah: 15-24)

Penghuninya bersaudara, dan tidak bermusuh-musuhan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَنَزَعْنَا مَافِي صُدُورِهِم مِّنْ غِلٍّ إِخْوَانًا عَلَى سُرُرٍ مُّتَقَابِلِينَ {47} لاَيَمَسُّهُمْ فِيهَا نَصَبٌ وَمَاهُم مِّنْهَا بِمُخْرَجِينَ {48}

“Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedangkan mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.—Mereka tidak merasa lelah di dalamnya dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan daripadanya.” (QS. Al Hijr: 47-48)

Serta kenikmatan lainnya yang begitu banyak.

Kenikmatan seperti inilah yang seharusnya dikejar dan didamba-dambakan oleh kita sebagai manusia, bukan kesenangan yang sementara (dunia).

 Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

خِتَامُهُ مِسْكٌ وَفيِ ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ

“Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS. Al Muthaffifin: 26)

Namun anehnya, kebanyakan manusia lebih mengedepankan kehidupan dunia, meninggalkan akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala befirman:

كَلاَّ بَلْ تُحِبُّونَ الْعَاجِلَةَ {20} وَتَذَرُونَ اْلأَخِرَةَ {21}

“Bahkan kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia—Dan meninggalkan (kehidupan) akhirat.” (QS. Al Qiyamah: 20-21)

Mereka rela mengorbankan fikiran dan tenaga untuk memperoleh kehidupan dunia yang fana, bahkan sejak mereka bangun tidur hingga tidur kembali, yang difikirkan mereka hanyalah “dunia”, lupa dengan akhirat, mereka rela bekerja keras untuk mendapatkan kenikmatan yang sesaat, namun untuk kenikmatan yang sesungguhnya, berat sekali melakukannya, bahkan sampai ada yang tidak menyisakan sedikit pun waktunya untuk akhirat. Fa innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun.

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Hakikat Hidup di Dunia

Hadirin, surga yang demikian nikmat tidaklah murah. Untuk memperolehnya, tidak mungkin dengan berleha-leha dan santai begitu saja. Bahkan untuk memasukinya kita perlu dites terlebih dahulu, sebagaimana jika kita hendak memasuki sebuah fasilitas kerja atau sekolah yang sangat bagus dengan sarananya yang lengkap, kita tidak mudah masuk begitu saja, bahkan harus dites dahulu, jika berhasil barulah kita bisa memasukinya. Demikian juga jika kita ingin masuk surga.

Ya, manusia akan dites atau diuji dahulu, namun di manakah mereka dites dan apa bentuk tesnya???

Tidak lain dan tidak bukan, manusia dites atau diuji terlebih dahulu di dunia. 

Jadi, dunia yang kita jalani ini merupakan tempat ujian, bukan tempat tujuan. Inilah sesungguhnya hakikat hidup di dunia, kalau sekiranya kita mengetahui. 

Allah Ta’ala berfirman:

تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ {1} الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ {2}

“Maha suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu—Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,” (QS. Al Mulk: 1-2)

Yakni bahwa kita akan diuji di dunia ini agar nampak jelas siapakah di antara kita yang paling baik amalnya, yakni yang paling ikhlas dan paling sesuai dengan tuntunan Rasul-Nya, dengan begitu kita dapat masuk ke dalam surga Allah yang luasnya seluas langit dan bumi.

Jika demikian, sudahkah kita menjalani ujian ini dengan sebaik-baiknya, sudahkah kita memperbaiki amal kita; apakah amal yang kita lakukan adalah amal shalih atau sebuah kemaksiatan, apakah amal shalih yang kita kerjakan ikhlas karena Allah atau tidak dan apakah amal shalih yang kita lakukan sesuai dengan tuntunan rasul-Nya atau tidak?

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Bentuk Ujian yang Dilalui Manusia

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا ءَامَنَّا وَهُمْ لاَيُفْتَنُونَ {2} وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ {3}

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?—“Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al ‘Ankabut: 2-3)

Bentuk Ujian yang Dilalui Manusia Ada Dua:

1. Ujian Enak (fitnah syahwat)

Yakni manusia dalam hidupnya di dunia, akan diuji dan digoda dengan hal-hal yang enak dan sejalan dengan selera hawa nafsunya. Godaan tersebut bisa berupa wanita, anak-anak, harta yang banyak, perniagaannya dsb. Allah Azza wa Jalla berfirman:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَاْلأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَئَابِ

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diinginkannya, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran: 14)

Jika seseorang dapat bersabar, dalam arti tidak tergoda dengan hal-hal di atas, yakni wanita, anak-anak, harta, perniagaannya dsb. tidak membuatnya lalai dari mengingat Allah, tidak membuatnya meninggalkan kewajiban dan tidak membuatnya jatuh mengerjakan larangan, maka dia akan beruntung di dunia dan di akhirat. Kepada mereka akan dikatakan:

سَلاَمٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ

“Salamun ‘alaikum bima shabartum” (keselamatan atasmu berkat kesabaranmu). Maka Alangkah baiknya tempat kesudahan itu (surga).” (QS. Ar Ra’d: 24)

Sebaliknya, barang siapa yang termakan oleh godaan itu, yakni membuatnya meninggalkan perintah dan jatuh mengerjakan larangan, maka ia akan rugi di dunia dan di akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَتُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلآأَوْلاَدُكُمْ عَن ذِكْرِ اللهِ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang berbuat demikian Maka mereka Itulah orang-orang yang merugi.” (QS. Al Munafiqun: 9)

Contoh nyata dalam hal ini adalah ketika azan memanggilnya untuk shalat, jika ia sampai tidak mau mendatanginya karena sibuk mengurus hartanya atau sibuk dengan bisnisnya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang rugi.

2. Ujian Tidak Enak (fitnah dunia)

ada 3 bentuk : 

Bala

Musibah 

Fitnah.

…….

Bala dan Musibah Al Baqoroh 155-157:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ (155) اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ (156) اُولٰۤىِٕكَ عَلَيْهِمْ صَلَوٰتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ (157)

……

Firman Allah SWT: 

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami." (QS al-Anbiya ayat 35).

Semoga kita bisa melalui pembelajaran kehidupan dan lulus ujian di dunia ini. Amiin Ya Rabbal Alamin

Aqulu qouli hada waastaghfirulloh li walakum

TAQOBBALALLOHU MINNA WA MINKUM.

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ

يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ

. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمـُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمـُؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ فيَا قَاضِيَ الحَاجَاتِ.

اللّهُمَّ اِنَّا نَسْأَلُكَ سَلاَمَةً فِى الدِّيْنِ وَعَافِيَةً فِى الْجَسَدِ وَزِيَادَةً فِى الْعِلْمِ وَبَرَكَةً فِى الرِّزْقِ وَتَوْبَةً قَبْلَ الْمَوْتِ وَرَحْمَةً عِنْدَ الْمَوْتِ وَمَغْفِرَةً بَعْدَ الْمَوْتِ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْوَهَّابُ.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسلِمِين وَاجْمَعْ كَلِمَةَ الْمُسْلِمِينَ عَلَى الْحَقِّ يَا رَبَّ الْعَلَمِينَ.

اَللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا كَمَا أَلَّفْتَ بَيْنَ الْمُهَاجِرِينَ وَاْلأَنْصَارِ

اَللَّهُمَّ رَبَّنَا تَـقَـبَّلْ مِنَّا صَلاَتَنَا… وَتُبْ عَلَينَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ  وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

7 ANGGOTA TUBUH YANG WAJIB DIJAUHKAN DARI MAKSIAT

Maksiat adalah perbuatan yang melanggar perintah Allah SWT yakni berbuat dosa. Agama Islam mengajarkan agar umat manusia menjaga anggota badannya dari perbuatan maksiat.

Imam Al Ghazali dalam kitab Bidayat Al Hidayah menjelaskan bahwa seluruh anggota badan manusia harus dijaga agar tidak berbuat maksiat. Khususnya tujuh anggota badan di antaranya mata, telinga, lidah, perut, kemaluan, tangan dan kaki.

*▶️ Pertama,* menjaga mata dari empat perkara. 
🔹Yakni menjaga mata dari melihat perempuan yang bukan muhrim.
🔹Menjaga mata dari melihat gambar-gambar yang membangkitkan syahwat.
🔹Menjaga mata dari melihat orang lain dengan pandangan menghina.
🔹Menjaga mata dari melihat aib orang lain.

*▶️ Kedua,* menjaga telinga dari mendengar perkara bidah, perkataan jahat, perkataan yang sia-sia, dan perkataan yang menyebut-nyebut kejahatan orang lain. Artinya jangan menyalahgunakan nikmat bisa mendengar dengan mendengarkan kemaksiatan.

*▶️ Ketiga,* menjaga lidah dari penyakit lidah.
🔸Yakni menjaga lidah agar tidak berkata bohong.
🔸Menjaga lidah agar tidak membuat janji tapi mengingkari janji.
🔸Menjaga lidah agar tidak ghibah atau mengumpat.

*▶️ Keempat,* menjaga perut dari memakan makanan yang haram dan syubhat. Maka manusia diwajibkan berusaha mencari makanan yang halal.

*▶️ Kelima,* menjaga kemaluan dari sesuatu yang diharamkan Allah SWT. Manusia tidak dapat menjaga kemaluan kecuali dengan menjaga mata dari melihat yang haram dan menjaga hati supaya tidak berpikir yang bukan-bukan.
Serta menjaga perut dari memakan yang haram, syubhat dan berlebihan. Karena semua itu adalah penggerak bagi syahwat.  

*▶️ Keenam,* menjaga kedua tangan dari sesuatu yang diharamkan dan jangan menggunakan tangan untuk menyakiti makhluk Allah SWT. Jangan menggunakan tangan untuk mengkhianati amanah dan mencuri. Serta jangan menggunakan tangan untuk menulis sesuatu yang diharamkan. 

*▶️ Ketujuh,* menjaga kedua kaki dari berjalan ke tempat yang diharamkan dan berjalan menuju sultan atau penguasa yang zalim. Karena berjalan menuju penguasa yang zalim tanpa dalam kondisi darurat atau terpaksa adalah maksiat. 

Imam Al Ghazali juga menjelaskan bahwa manusia akan dimintai pertanggungjawaban. Kelak di Padang Mahsyar anggota badan manusia akan bersaksi atas apa saja yang telah diperbuatnya selama hidup di dunia. Karena itu, manusia harus menjaga anggota badannya agar tidak berbuat maksiat.  

ٱلْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَىٰٓ أَفْوَٰهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَآ أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُم بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ 

"Pada hari ini Kami tutup mulut mereka, dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan."
(QS Yasin: 65).

Sumber Ketenangan Dalam Al-Quran

Di mana sebenarnya Kunci Ketenangan Hati? Kebanyakan orang mencari hidupnya senang padahal yang dicari sesungguhnya itu ketenangan.

Semua akan sadar bahwa setiap yg Tenang pasti Senang, Tapi tidak semua yg Senang itu hidupnya Tenang.

Kalau bahagia ada di harta maka orang bahagia di orang kaya. Kalau bahagia di ilmu maka yg bahagia cuma orang pintar. Ternyata kenyataanya tidak demikian, bahwa ketenangan itu bisa didapatkan oleh siapa saja yang mau merasakannya.

Di dalam Al-Quran didapat pedoman untuk meraih ketenangan dengan mudah. Dijelaskan bahwa Sumber ketenangan bisa datang dengan mudah.

  1. Yg memberi ketenangan itu Alloh. Qs. Alhath : 4. 

  2. Alloh memegang jiwa ruh seseorang yg masih hidup. Qs.39:42

  3. Nyimpan harta di tangan, nyimpan iman di hati. Jangan terbalik.

  4. Alloh yg memberi kehidupan. Berapa banyak kita memberikan ibadah kepada Alloh.

  5. Sumber Ketenangan itu bisa juga dari Malam. 

  6. Kalau tidak sesuai sunatullo maka tunggu kehancuran. Dalil tidur Qs yunus 67.

  7. Sumber ketenangan selanjutnya Rumah. Jangan jadikan rumah spt kuburan.

  8. Sumber ketenangan itu pasangan.qs 30:21.

Penjelasan mengenai 4 Sumber Ketenangan di Dunia yang Disebutkan Al-quran

Menurut Alquran ada empat sumber ketenangan. Hal ini disarikan dari makna sukun (ketenangan) dan turunannya dalam berbagai ayat Alquran. Berikut ini makna dan sumber ketenangan dalam Alquran: 

1. Rumah. Firman Allah SWT surat An Nahl ayat 80:  

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ بُيُوتِكُمْ سَكَنًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ جُلُودِ الْأَنْعَامِ بُيُوتًا تَسْتَخِفُّونَهَا يَوْمَ ظَعْنِكُمْ وَيَوْمَ إِقَامَتِكُمْ ۙ وَمِنْ أَصْوَافِهَا وَأَوْبَارِهَا وَأَشْعَارِهَا أَثَاثًا وَمَتَاعًا إِلَىٰ حِينٍ

“Dan Allah menjadikan rumah-rumah bagimu sebagai tempat tinggal dan Dia menjadikan bagimu rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit hewan ternak yang kamu merasa ringan (membawa)nya pada waktu kamu bepergian dan pada waktu kamu bermukim dan (dijadikan-Nya pula) dari bulu domba, bulu unta, dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan kesenangan sampai waktu (tertentu).”

Ketika sebuah rumah tersebut adalah bagian dari keberkahan yang Allah berikan. Maka rumah terbut akan menjadi sebagai sumber ketengan dan kebahagian penghuninya.

2. Malam. Dalam Alquran surat Yunus ayat 67 disebutkan:

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَالنَّهَارَ مُبْصِرًا ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ 

“Dialah yang menjadikan malam bagimu agar kamu beristirahat padanya dan menjadikan siang terang-benderang. Sungguh, yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang mendengar.”

Allah menciptakan malam sebagai waktu istirahat makhluk-makhluknya. Sehingga mereka dapat merasakan ketenangan di dalamnya. Ketika waktu malam tiba, untuk mendapatkan ketenangan seorang Muslim bisa membaca Alquran, berzikir, bershalawat maupun memberikan infak kepada orang yang membutuhkan. 

3. Istri. Surat Ar Rum ayat 21:  

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ 

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.”

Sebagaimana arti dari ayat di atas, istri dapat menjadi sumber ketenangan dan ketentraman bagi pasangannya. Tentu istri tersebut haruslah istri yang bisa menyenangkan hati suami dengan ketaatan baik kepada suami dan juga kepada Allah SWT. 

4. Berdoa. Surat At Taubah ayat 103: 

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ 

“Ambillah zakat dari harta mereka guna membersihkan dan menyucikan mereka dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Mahamendengar, Mahamengetahui.”

Dengan berdoa kepada Allah maka akan membuat hati lebih tenang dan tentram. Berdoa bukan hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk orang lain, termasuk kepada mereka yang menerima sedekah dari kita.

Cara menenangkan hati 

1. Zikir
Zikir menjadi salah satu praktik meditasi Islam yang paling umum. Zikir atau mengingat Allah adalah kunci utama untuk menenangkan hati. Dengan mengucapkan kalimat-kalimat tasbih dan memperbanyak Zikir dapat menghilangkan kegelisahan dan membuat hati menjadi tenang.

Hal ini disebutkan dengan tegas melalui firman Allah dalam Qur’an Surah Ar-Rad ayat 28.

"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram."

2. Refleksi (Tafakur)
Tafakur adalah proses berpikir dengan sengaja, konstruktif, dan positif. Praktik ini menjadi sangat penting karena budaya modern sering kali membanjiri kita dengan gangguan yang tak henti.

Dampaknya dapat menciptakan stres, kecemasan, dan kurangnya kedamaian batin. Oleh karena itu, penting untuk melepaskan diri dan membebaskan diri dari belenggu dunia ini.

Langkah awal yang bisa diambil adalah dengan duduk diam selama lima menit setelah menunaikan salat fardhu. Tutup mata dan pikirkan betapa Allah selalu memerhatikan setiap manusia.

Meluangkan waktu untuk merenungkan Allah dan akhirat akan membawa kesadaran yang mendalam. Hal ini akan membantu kita untuk lebih bersyukur dan juga meredakan tekanan hidup sehari-hari.

3. Berwudu
Salah satu cara menenangkan hati adalah dengan berwudu. Wudu dapat melunturkan dosa-dosa sehingga membuat hati menjadi lebih tenang. Allah SWT menyukai orang-orang yang menyucikan diri, hal ini sebagaimana firman Allah dalam Qur’an surah Al-Baqarah ayat 222

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.”

4. Membaca Al-Qur'an
Membaca Al-Qur'an adalah salah satu bentuk menenangkan diri yang paling kuat dan bermanfaat. Jika sedang mengalami hari yang sangat buruk, cobalah untuk membaca Al-Qur'an agar hati merasa tenang.

5. Berprasangka baik
Menanamkan sikap berprasangka baik, terutama kepada Allah SWT adalah kunci untuk menjaga hati tetap damai. Memahami setiap ujian dan cobaan yang diberikan Allah SWT juga dapat membantu menjaga hati tetap tenang.

Sudah sepatutnya untuk tetap berprasangka baik kepada Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda, Allah berfirman:

“Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat).” (HR Bukhari dan Muslim.)

6. Memperbanyak rasa syukur
Menghargai nikmat yang telah diberikan Allah SWT adalah salah satu cara untuk mendapat ketenangan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan bersyukur pada nikmat yang telah diberikan, dapat membuat hati terasa lebih lapang dan membawa kedamaian jiwa.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surah Ibrahim ayat 7, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”

7. Menyendiri
Menyendiri adalah sesuatu yang dipraktikkan Nabi Muhammad SAW. Dia menghabiskan waktu berhari-hari di Gua Hira untuk mencoba memahami apa yang ia lihat di sekitarnya.

Setelah itu, Nabi Muhammad SAW mengajarkan kepada umatnya untuk beriktikaf di bulan Ramadan, yaitu sebagai sesuatu yang harus dilakukan pria dan wanita karena memiliki imbalan sangat besar.

Para istri Nabi Muhammad SAW hidup secara terpisah yang menunjukkan kepada kita pentingnya waktu sendirian

4 Tipe Manusia Menurut Syekh Abdul Qodir Al-Jilani

Artikel kali ini inspirasi ilmu pengetahuan tentang 4 Tipe Manusia Menurut Syekh Abdul Qodir Al-Jilani dalam buku Nasoihul Ibad halaman 15.

Manusia itu mempunyai warna yang beragam. Satu dengan yang lain mempunyai tipenya sendiri-sendiri. Ada empat tipe manusia yang ditegaskan oleh *Syekh Abdul Qodir Al-Jilany.* Keempatnya adalah sebagaimana berikut ini.

1. رَجُلٌ لالِساَن لَهُ ولاقَلْب

> 1.Pertama, orang yang tidak berlisan dan tidak berhati. Mereka adalah orang durhaka/ orang yang bermaksiat, selalu terbujuk pada rayuan syetan.

فاَحْذَرْ أن تَكُوْنَ مِنهم ولاَتقُمْ فِيْهِم فإنَّهُم اهلُ العَذَابِ

Maka berhati-hatilah, jangan sampai engkau seperti mereka, sesungguhnya mereka orang-orang yang disiksa

2. رجلٌ له لِساَنٌ بِلاَ قَلْبٍ

> 2.Kedua, orang yang berlisan tapi tidak berhati, sehingga dia berbicara dengan hikmah (ilmu dan mutiara) tapi tidak mengamalkannya.

فاَبْعُدْمِنهُ بِأنْ لاَيحْفَظَكَ بِلَذِيْذِ لِسَانِهِ

Maka, jauhilah mreka, supaya engkau tidak tertipu oleh keindahan perkataan mereka yang bisa mmmbuatmu terbakar oleh kemaksiatan dan kebusukan hati mereka.

3. رجلٌ له قَلْبٌ بِلاَلِساَنٍ

> 3.Ketiga, orang yang memiliki hati tapi tidak mmiliki lisan. Yaitu orang mukmin yang pndangannya ditutupi oleh  اللهُdari kejelekan makhluqnya dan اللهُmemperlihatkn aib dirinya, hatinya terang dan pandai bergaul.

فَهذَارجلٌ وَلِيُ اللّٰهِ تعالى .مُخاَلَطَتَهُ وخِدْمَتَهُ فَيُحِبّكَ اللهُ تعالى

Orang ini termasuk Wali Allah. Maka bergaullah engkau dengannya niscaya اللهُ mencintaimu.

4. رجلٌ تَعَلَّمَ وعَلَّمَ وعَمِلَ بِعِلْمِهِ وهو العاَلِمُ بِالله تعالى وآياَتِهِ إسْتَوْدَعَ الله قَلْبَهُ غَرَائِبَ عِلْمِهِ و شَرَحَ صَدْرَهُ لِقَبُوْلِ الْعُلُوْمِ

> 4.keempat, orang yang belajar dan mengajar serta mengamalkan ilmunya, dia mengetahui tanda-tanda kebesaarn Allah dan Allah melapangkan dadanya untuk menerima macam-macam ilmu.

أنْ تُخَالِفَهُ وتُجَانِبَهُ وتَتْرُكَ الرُّجُوْعَ الى نَصِيْحَتِهِمْ

Hendaknya engkau mendekati dia untuk kembali meminta nasehat kepadanya.

Sumber: نَصاَئِحُ العِبَادِ، ص: ١٥`

10 Sifat Pribadi Tangguh Seorang Muslim

Inspirasi tentanf 10 SIFAT PRIBADI TANGGUH seorang muslim yang beriman.

Saudaraku, Sesungguhnya dalam diri seorang muslim harus memiliki 10 sifat pribadi tangguh,  yaitu:

1. Saliimul ‘Aqiidah سليم العقيدة
(BERSIH AQIDAHNYA)
“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku, semuanya karena Allah Rabb semesta alam”. 
(Al-An’aam : 162)

2. Sahiihul ‘Ibaadah صحيح العبادة
(BENAR ‘IBADAHNYA)
“Shalatlah kamu seperti yang kamu lihat Aku shalat”. 
(Riwayat Bukhari)

3. Matiinul Khulu متين الخلق
(KOKOH AKHLAKNYA)
“Dan sesungguhnya kamu wahai Muhammad benar-benar memiliki akhlak yang agung. 
(QS. Al-Qalam : 68)

4. Qawiyyul Jismi قوي الجم
(KUAT JASMANINYA)
“Mukmin yang kuat lebih aku cintai daripada mu’min yang lemah”. 
(Riwayat Muslim)

5. Mutsaqqaful Fikri مثقف الفكر
(INTELEK DALAM BERFIKIR)
“Katakanlah: samakah orang yang ber-ilmu dengan orang yang tidak ber-ilmu, sesungguhnya hanya orang-orang yang ber-akallah yang dapat menerima pelajaran”. 
(QS. Az-Zumar : 39)

6. Mujaahidun Linafsih مجاهد لنفسه
(KUAT MELAWAN HAWA NAFSUNYA)
“Tidak ber-iman seseorang dari kamu, sehingga ia menjadikan hawa nafsunya tunduk pada ajaran Islam yang aku bawa”. 
(Riwayat al-Haakim)

7. Hariishun ‘alaa Waktih حريص على وقته
(SUNGGUH-SUNGGUH MENJAGA WAKTUNYA)
“Manfaatkan lima perkara sebelum datang lima perkara: mudamu sebelum tua, sehatmu sebelum sakit, kayamu sebelum miskin, lowongmu sebelum sibuk, dan hidupmu sebelum mati”. 
(Riwayat al-Haakim)

8. Munazhzhamun fii Syu’unih  منظم في شئونه
(TERATUR DALAM SEMUA MASALAHNYA)
“Kebatilan yang teratur, dapat mengalahkan kebenaran yang tidak teratur”. 
(Ali bin Abi Thalib)

9. Qaadirun ‘alal Kasbi  قادر على الكسب
(MAMPU BERUSAHA SENDIRI)
“Tidak ada penghasilan yang lebih baik bagi seorang laki-laki daripada bekerja sendiri dengan kedua tangannya”. 
(Riwayat Ibnu Majah)

10.Naafi’un lighairihi  نافع لغيره
(BERMANFAAT BAGI ORANG LAIN)
“Sebaik-baik manusia, adalah paling bermanfaat bagi sesama manusia”. 
(Riwayat al-Qudhaa’i).

 لاَ هَوْلَ وَلاَ قُوَّتَ اِلاَّبِاللّهِ
Semoga Allah Aza wa Jalla mengaruniakan hidayahNya kepada kita,  sehingga kita tetap istiqamah untuk senantiasa berupaya menjadi pribadi yang tangguh..aamiin